Pembuka Kata :
Memperjelas silsilah leluhur adalah bagian
yang tidak saja membutuhkan pemikiran ataupun waktu khusus, sebagai
pemerhatipun tidak kalah sulitnya untuk berkonsentrasi mencermati, mempelajari
dan menganalisa yang kesemua itu merupakan :
- Wujud upaya melestarikan pesan yang tersirat dan tersurat dalam hasil karya silsilah para pinisepuh / leluhur,sebagai upaya "Nguri-uri"/ melestarikan peninggalan/wasiat tersebut
- Sebagai pula wujud hormat dan mencintai orang tua / leluhur, menjalankan dharma bakti keturunannya teriring pula doa-doa. Dilakukan tanpa pamrih apapun, hanya karena wasiat beliau yang telah bersusah payah membangun silsilah keluarga,
Mengingat hal tersebut, banyak sudah upaya
membangun silsilah mendapatkan rintangan-rintangan,yang menghambat, tidak lain
semua itu timbul dari orang-orang yang dijadikan rangkaian, dan diuntai jadi
silsilah memberikan sikap adalah sebagai berikut :
1). Enggan memberikan informasi, dan
berpendapat silsilah hanya sebagai upaya memperlihatkan siapa aku, dan tak ada
gunanya dalam meningkatkan status ekonominya.
2). Meletakan sikap yang kurang hormat
kepada penyusun silsilah, dengan anggapan bahwa membuat silsilah akan
memberatkan keungannya, yaitu memberi dana sokongan.
3). Mereka menutup diri karena silsilah
berpeluang besar membuka aib keluarga, dan informasinya diberikan secara
tidak jujur;
4). Konflik pandangan hidup, kepercayaan
agama, status sosial, dan warisan.
5). Mengabaikan hubungan keluarga sedarah
( kominikasi-silaturahmi, tolong menolong )
·
Dari
akibat tersebut maka silsilah, yang ditulis acap kali berbenturan dengan yang
lain, ini keadaan yang lumrah, mengapa tidak ....... kemampuan seseorang
berbeda, keadaan sosialpun berbeda, waktu dan masa menulispun selalu
berbeda oleh sebab itu banyak pengaruh yang dominan terhadap tulisan silsilah.
lain, ini keadaan yang lumrah, mengapa tidak ....... kemampuan seseorang
berbeda, keadaan sosialpun berbeda, waktu dan masa menulispun selalu
berbeda oleh sebab itu banyak pengaruh yang dominan terhadap tulisan silsilah.
Dari uraian diatas,
semoga para pembaca, pemerhati menjadikan maklum, dan sekarang timbul masalah
mengapa budaya dalam melestarikan genealogy bagi satu keluarga menjadi sangat
kurang diperhatikan, namun saat-saat usia merambah di usia senja barulah mereka
tergerak ? tidak lain karena kesibukan memenuhi hajat hidup dan keinginan
meningkatkan karier agar memiliki status yang terpandang. Semuanya tidak salah
.
Namun satu hal harus diingat bahwa dalam perjalanan hidup seseorang sangat
mulia berharga, dan tersanjung di mata keluarga/masyarakat jika mereka
mengenal/paham sanak family, mampu memberikan pencerahan, memberikan
pertolongan kepada yang lain tentang hubungan keluarga dan sosial. Bahkan jika
ada kemampuan menyampaikan ceritera ceritera leluhur tentang budi pekerti,
sifat-sifat luhur, ataupun wasiat wejangan / petuah luhur orang tua yang
bermanfaat..
Dan oleh karena itu penulis, tergerak untuk memulai satu langkah lagi
mebeberkan dan merangkum dari bahan silsilah yang sumber berbeda namun masih
dalam urutan silsilah. Karena ada paham bahwa peninggalan leluhurnya pasti
benar, namun tidak mengingat saat itu alat / media komunikasi minim sekali /
sangat terbatas. Disusun oleh perorangan dalam tulisan tangan, tanpa pakem,
bahan pustaka tidak tersedia lengkap dan lain sebagainya.
Demikian kami ulas tentang membangun suatu silsilah, dan sajikan tulisan :
Garis Silsilah Raden Ayu Srie Berie Budjang dengan Kasultanan Cirebon. Dan
dalam penulisan nama beliau sering di persingkat dengan nama Raden Ayu Berie. Semoga
ada manfaatnya.
Raden Ayu Srie Berie Budjang
Begitu pentingnya untuk mengetahui dengan
sebenarnya tanpa keraguan asal usul Raden Ayu Srie Berie Budjang, yang posisi
awalnya ada sebagai isteri / selir seorang raja tanah Jawa. Siapakah sebenarnya beliau ? kepastian harus kita dapat karena beliau sebagai cikal bakal / leluhur dan keturunan dari beliau memegang peran penting sebagai leluhur dan kemudian keturunannya banyak menempati kedudukan sebagai pemangku jabatan, ataupun penguasa pemerintaha tanah Jawa, s/d. wiraswasta dlsb., dan menurunkan anak cucu, yang kemudian juga sebagai pancer dari keluarga masing-masing.
- Garis silsilah yang terputus dari Raden Ayu Srie Berie Budjang
Berawal kita berbicara dari putera beliau sebagai Pancer / Leluhur bupatai bupati Tanah Jawa ( Jawa Timur dan Jawa Tengah ) Raden Groedo / Raden Garudo jumeneng Adipati nama gelar Raden Tumenggung Ario Nitidingrat I, adalah Bupati Pasuruan yang
pertama;
Setelah menginjak usia dewasa
memegang tampuk kepemimpinan memakai nama Raden Bagus
Ngabei Soemodrono, atau memakai nama gelar Kyai Adipati Nitinegoro II. Raden Garudo Lahir Th 1740 di Desa Groedo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan nama gelar lainnya dalah Kyai Adipati Nitiadiningrat I ( Berdasarkan Resolusi 27 Juli 1751) Bupati PASURUAN
1751 sampai dengan tangga 8 Nopember-1799.
Dikenal dengan julukan "Kanjeng Lemper", karena sakit strok
Karena Raden Groedo / Garudo sebagai pancer (cikal bakal) keturunannya ataupun pancer dari beberapa Trah misalnya Trah Nitidiningrat, Trah Notoadiningrat, Trah Kromodjayan Kasepuhan, dan Kanoman, Trah Tjondronegoro .
Maka perlu mengetahui secara
pasti silsilah beliau dari Pancer Ayah maupun pancer ibu dari Raden Ayu Srie
Berie Budjang. Sehubungan beberapa
sumber pustaka genealogy ada sedikit perbedaan.
Nama Raden Ayu Berie dalam risalah
“Babad Tanah Jawi” atupun “Kitho Pasuruan” telah diungkap tulisan seorang
pemerhati Sastra Universitas Sumetera Utara, dan petikan dari pokok bahasan / naskah
tentang “babat” yang meliputi negara Mataram.
Kutipan dari “Babad Kitho Pasuruan” ( bahasa kawi kuno )
“Sakehe para kompeni, pan samya rakit sedaya, Jeng Pangran
kumpeni, pan samya rakit sadaya, Jang Pangeran langkung asihe dhumateng Ki
Adopatya, lajeng wau taginanjar wanodya ayu pinunjul garwane panran pribadia.
Awasta dyan ayu Bari, nangsih nandang wawratan dku kang
pinaringake, kocapa Ki Adinatya sakelangkung lingahira, nulia pinarehaken
sampun wonten ing dhusun garuda.
Hanjuring kandha sepalih, saestu Kanjeng Pangran amunderma
ngeterake maring wanodya punika, satuhue garwira, enggih kanjeng sinuhun ing
Mataram Kartosuro”
Terjemahan :
“Semua orang kompeni, sudah lengkap hadir, Kanjeng pangeran sangat
menaruh hati kepada Ki Adipati ( Bupati Pasuruan Kyai Adipati Nitinegoro ),
maka kemudian ia diberi hadiah seorang wanita yang sangat cantik isteri
Pangeran itu sendiri. Bernama Raden Ayu Berie, akan tetapi wanita
yangdihadiahkan ini masih berisi ( dalam keadaan mengandung).
Kyai Adipati sangat senang hatinya sebab wanita itu sangat cantik,
dan ia segera menempatkan di desa Garudo.
Menurut kata setengah orang,sebenarnya Kanjeng pangeran sekedar
mengantarkan wanita ituy. Sesungguhnya wanita itu adalah isteri dari Susuhunan
Mataram di Kartosuro,”
Kita simpulkan bahwa Sinuhun Kanjeng
Susuhunan Paku Buwana II, adalah raja Mataram di Kartosuro. Nama aslinya adalah
Raden Mas Prabasuyoso, putera Amngkurat IV dari permaisuri keturunan / Trah
Sunan Kudus, dilahirkan tanggal 08 Desember 1711.
Paku Buwana II jumeneng (naik tahata) nata
tahun prameswari dari
Hingkang Sinuhun Amangkurat IV -Jawa di
Kartosuro.
Garwo ampeyan / selir Pakubuwana bernama
Raden Ayu Srie Berie Budjang status sebagai puteri Keraton ini diberikan
sebagai hadiah ( istilah jawa : puteri teriman ) kepada Bupati Pasuruan Raden
Adipati Nitinegoro. Namun keadaan Rade Ayu Berie dalam keadaan mengandung.
Meskipun demikian Bupati tersebut merasa bahagia karena mendapat anugerah raja.
Dengan syarat selama wanita itu belum melahirkan Adipati Nitinegoro tidak boleh
menggauli, hal ini disebutkan dalam serat babad :
“ ......
mangkana wau welinge, ing ngenjang lamun mbabar anengih putroniro poma-poma
wekas ingsun, siro nama nama radian, ing nagari Pasuruan lan malih ing wekas
ingsun sadurunge mbabar uka. Lan aja sura saresmi hiya laean garmaniro... “
Terjemahan :
“...... demikian
pesannya, besok kalau sudah melahirkan anakmu, saya pesan supaya sungguh
sungguh anak itu diberi sebutan Raden ....., karena besok ialah yang menurunkan
raden di Pasuruan, dan lagi pesan saya: sebelum melahirkan kamu tidak boleh
bersetubuh dengan isterimu ...”
Sedikit ulasan dalam hal ini : “.... memetik
makna sejarah tersebut memberikan wawasan bahwa sang raja menghadiahkan isteri
di jaman itu bermaksud / dengan tujuan untuk mempererat hubungan kekuasaan pusat
/ keluarga raja dengan para pejabat wilayah kerajaan....”. Dengan kelahiran
Raden Garuda merupakan wakil kerajaan. Sedangkan Adipati Nitinegoro menjadi
keluarga kerajaan walaupun statusnya ayah tiri Raden Garudo.
Berdasrkan fakta disimpulkan SISKS Paku
Buwono II adalah ayah Raden Groedo/ Garudo, dengan logika tahun kelahiran,
kematian dan masa pemerintahan, adalah sbb. :
1. Sultan Agung
(1593-1645) versi Catatan Silsilah
Keluarga Ibu Maryati
Sukomihardjo.
2. Amangkurat -I ( 1645-1647 ), versi buku "Note's on Jav's Regent Families"
oleh Heather Sutherland.
3. Pangeran Panular ayah Raden Garudo, versi buku "Note's on Jav's Regent
Families" tidak menjelaskan tahun berapa lahir, wafatnya. Dan dari pustaka
Keraton Surakarta, Pangeran Panulat tercatat masa usianya sejaman dengan
SISKS Paku Buwana ke 1.
4. SISKS Paku Buwana I ( 1677-1719 ) adalah ayah Raden garudo, versi
4. SISKS Paku Buwana I ( 1677-1719 ) adalah ayah Raden garudo, versi
Silsilah Bupati Bondowoso, dan catatan silsilah Eyang Raden Ajeng Doeryana
serta Silsilah versi Pemda Pasuruan di website internet.
5. Dari sudut usia Raden Garudo, di usia 11 tahun diangkat menjadi Bupati
Pasuruan pada tanggal 27 Juli 1751, sampai dengan tahun 1740; dan wafat
tahun 1799.
Dari hasil tulisan dr Arman Yurisaldi saleh, MS, SpS. Sebagai pemerhati,
penulis genealogy dihalaman 33 dalam
bukunya "Gebyaring Cahaya Maduretna”
menjelaskan Pancer Ayah Raden Ayu Srie Berie Budjang dalam tulisannya
menjelaskan :
R Ayu Berie adalah puteri Raden Sidik,dengan gelar Sunan Drajad V (keturunan ke lima
(canggah) Sunan Drajad, ( jadi bukan
dimaksud kelompok Wali Songo ). Nama gelar lain : Pangeran Kertokoesoemo II.
R Ayu Berie adalah puteri ke 5 dari 5
bersaudara kandung dengan urutan sebagai berikut : 1. Ki Djojoardjo; 2. Raden
Gintir Soeloek; 3. Raden Djojosoepeno; 4. Raden Soerodiwirjo; 5. Radem Ayu Beri
Boedjang.
Dari keterengan beliau Raden Elang seorang Pangeran Keraton Kasepuhan
Cirebon, menjelaskan bahwa dari ciri kas nama putera puteri Raden Ayu Berie
mengambil nama dari burung yang dinilai perkasa atau indah bagi nama anak
keturunannya. Katurunan bangsawan Cirebon banyak meng- gunakan nama burung. Misalnya nama Elang diambil nama burung
Rajawali yang perkasa, dengan harapan keturunannya menjadim perkasa seperti
burung elang.
Lambang Kasultanan Kasepuhan Cirebon
Berdasarkan sumber sejarah dan bahasa Kawi atau jawa kuno, nama “Berie”
adalah nama burung Rajawali betina yang menunjukkan kebesaran, kehebatan beliau
sebagai pewaris garis keturunan titah yang unggul. Dijelaskan pula bahwa di
komplek pemakaman Kanjeng Sunan Gunung Jati juga terdapat nama almarhum para
bangsawan yang menggunakan nama burung elang yaitu Pangeran Sindang Garuda, adalah keturunan Trah kanjeng Gusti Gunung
Jati. Yang kesemuanya hal ini merupakan pertanda bahwa R Ayu Berie masih dalam
keturunan keraton Kasepuhan Cirebon. Pada tanggal 12 Desember 2009 datanglah
berita dari Raden Elang yang menunjukkan adanya kemungkinan R Ayu Berie
keturunan dari Kanjeng Sultan Amir Sena, berdasarkan angka tahun semasa hidup
beliau.
Berita ini setelah dikonfirmasikan dengan Raden Ayu Sri Moerti Rahayu, SH.
ibunda dr Arman Yurisaldi Saleh, bahwa pernah dibertahu oleh Eyang Raden Ayu
Siti Roekmi bahwa leluhur R Ayu Berie dari Kasultanan Kasepuhan Cirebon yaitu
Kanjeng Sultan Amir Sena. Pada tanggal
13 Desember 2009 dilakukan penelusuran silsilah dengan mencopy Silsilah milik
Kasultanan Kasepuhan Cirebon, dan terdapat informasi bahwa :
Kanjeng Sultan Amir Sena menikah dengan
seorang isteri, yang melahirkan 5(lima)
orang putera puteri.
Secara struktural genealogy penguasa
Keraton Kasepuha Cirebon, yaitu :
1.
Sunan
Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) (bertahta dari 1479 - 1568)
2.
P.
Adipati Pasarean (P. Muhammad Arifin) (hidup dari 1495 - 1552)
3.
P.
Dipati Carbon (P. Sedang Kamuning) (hidup 1521 - 1565)
4.
Panembahan
Ratu Pakungwati I (P. Emas Zainul Arifin) (bertahta dari 1568 - 1649)
5.
P.
Dipati Carbon II (P. Sedang Gayam) (-)
6.
Panembahan
Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilaya) (bertahta dari 1649 - 1666)
7.
Setelah pembagian kesultanan Cirebon,
Kasepuhan
dipimpin oleh anak pertama Pangeran Girilaya yang bernama Pangeran Syamsudin
Martawidjaja yang kemudian dinobatkan sebagai Sultan Sepuh I.
8.
Sultan
Sepuh I Sultan Raja Syamsudin Martawidjaja (bertahta dari 1679 - 1697)
9.
Sultan
Sepuh II Sultan Raja Tajularipin Djamaludin (bertahta dari 1697 - 1723)
10.
Sultan
Sepuh III Sultan Raja Djaenudin (bertahta dari 1723 - 1753)
11.
Sultan
Sepuh IV Sultan Raja Amir Sena Muhammad Jaenuddin (bertahta dari 1753 - 1773)
12.
Sultan
Sepuh V Sultan Sepuh Sjafiudin Matangaji (bertahta dari 1773 - 1786)
13.
Sultan
Sepuh VI Sultan Sepuh Hasanuddin (bertahta dari 1786 - 1791) bertahta
menggantikan saudaranya Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji
14.
Sultan
Sepuh VII Sultan Sepuh Djoharudin (bertahta dari 1791 - 1815)
15.
Sultan
Sepuh VIII Sultan Sepuh Radja Udaka (Sultan Sepuh Raja Syamsudin I)
(bertahta dari 1815 - 1845[13])
menggantikan saudaranya Sultan Sepuh VII Sultan Djoharuddin
16.
Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman (Sultan
Sepuh Raja Syamsudin II) (bertahta
dari 1845 - 1853)
17.
Perwalian
oleh Pangeran Adiwijaya bergelar (Pangeran Syamsudin IV) (menjadi wali
bagi Pangeran Raja Satria dari 1853 - 1871)
18.
Pangeran
Raja Satria (memerintah dari 1872 - 1875) mewarisi tahta ayahnya Sultan
Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman sebagai putera tertua Sultan Sepuh IX yang
sah, setelah meninggalnya walinya yaitu Pangeran Adiwijaya sesuai dengan penegasan
Residen Belanda untuk Cirebon tahun 1867
19.
Pangeran
Raja Jayawikarta (memerintah dari 1875 - 1880) menggantikan saudaranya
Pangeran Raja Satria
20.
Sultan Sepuh
X Sultan Radja Atmadja Rajaningrat (bertahta dari 1880 - 1885) diangkat
sebagai Sultan untuk menggantikan saudaranya yaitu Pangeran Raja Jayawikarta
21.
Perwalian
oleh Raden Ayu (Permaisuri Raja) menjadi wali bagi Pangeran Raja Adipati
Jamaludin Aluda Tajularifin dari 1885 - 1899
22.
Sultan
Sepuh XI Sultan Sepuh Radja Jamaludin Aluda Tajularifin (bertahta dari 1899 -
1942)
23.
Sultan
Sepuh XII Sultan Sepuh Radja Radjaningrat (bertahta dari 1942 - 1969)
24.
Sultan
Sepuh XIII Pangeran Raja Adipati DR.H. Maulana Pakuningrat. SH (bertahta dari
1969 - 2010)
25.
Sultan
Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. SE (bertahta dari 2010 -
sekarang).
Versi Kitab sejarah Famili Raden Tumenggung Ario
Nitidiningrat
Fatzal 1 Kacarito yang setelah Kiyai Ngabei Wongsonegoro ini di junjung jadi Bupati di Pasuruan dengan nama gelar Kiyai Tumenggung Nitinegoro, lantas dapat ganjaran seorang putri “selir” dari kanjeng Susuhunan Pakubuwono yang ke dua di Kartosuro. Putri itu bernama Raden Ayu Berie dibilang juga Srie Berie Boedjang, anaknya Pangeran Bodrokusumo di Drajat Sedayu.
Raden Ayu Berie masih keturunan dari wali
Susuhunan Ampel, Surabaya dimana telah diperiksa di sejarah Ampel, dan sebagai
keturunan ke 7(tujuh) dari Susuhunan Ampel.
Raden Ayu Berie meninggal, dimakamkan di
Pakuncen, namun terpisah dengan Raden Tumenggung Nitinegoro,
Meletakkan dasar pada pakem Pasuruan, sejarah Kyai adipati Nitidiningrat I, Bupati Pasuruan 1751-1799, bahwa Raden Ayu Srie Berie Budjang adalah anak Pangeran Kertokusumo / Bodrokusumo, dari desa Drajat, Sidayu-lawas. Sebagai keturunan ke 7 dari Raden Rachmad / Sunan Ampel, di Surabaya. Katika Raden Ayu Srie Berie Budjang dalam keadaan mengandung umur 3 bulan, oleh suamnya Paku Buwono II deberikan sebagai hadiah ( puteri teriman ) kepada Kyai Tumenggung Wongsonegoro. Dalam Silsilah ini asal usul Raden Ayu Srie Berie Budjang tidak di jelaskan. Silsilah ini menjelaskan dalam bahasa belanda : "Hij huwde, opaaraden van den Susuhunan van Kartosuro, met eene aanzienlijke vrouw uit de priesterfamilie van Dradajt, (Sidayu, Gresee) genaamd Sri BRI., of Sri Bri Boedjang. Zij was de geseparerde echtgenoot van Pangeran Panoelar,van dezen zwanger toen zij met Nitinegoro huwde.
"Dia menikah, atas saran dari Susuhunan dari Katrtosuro, dengan seorang wanita yang cukup dari keluarga imam dari Dradjat (Sidayu, Gresee) bernama Sri Bri, atau Sri Bri Boedjang. Dia adalah suami dipisahkan dari Pangeran Panoelar, dan dari mereka hamil saat menikah Nitinegoro." Dan selanjutnya tidak mengungkap tentang leluhur R \
Lambang Adipati Pasuruan Nitinegoro I
Versi Bukud Serat Sara Silah dari keturunan 1) Kasepuhan; 2) Kanoman 3) Kromodjayan; 4) Sambongan; 6). Nitiidiningrat; 7). Notoadiningrat; 8) Bustaman-Semarang; 9). Pusponegoro-Gresik Lawas; 10 Dinasty HAN di Lasem. Meletakkan dasar pada pakem Pasuruan, sejarah Kyai adipati Nitidiningrat I, Bupati Pasuruan 1751-1799, bahwa Raden Ayu Srie Berie Budjang adalah anak Pangeran Kertokusumo / Bodrokusumo, dari desa Drajat, Sidayu-lawas. Sebagai keturunan ke 7 dari Raden Rachmad / Sunan Ampel, di Surabaya. Katika Raden Ayu Srie Berie Budjang dalam keadaan mengandung umur 3 bulan, oleh suamnya Paku Buwono II deberikan sebagai hadiah ( puteri teriman ) kepada Kyai Tumenggung Wongsonegoro. Dalam Silsilah ini asal usul Raden Ayu Srie Berie Budjang tidak di jelaskan. Silsilah ini menjelaskan dalam bahasa belanda : "Hij huwde, opaaraden van den Susuhunan van Kartosuro, met eene aanzienlijke vrouw uit de priesterfamilie van Dradajt, (Sidayu, Gresee) genaamd Sri BRI., of Sri Bri Boedjang. Zij was de geseparerde echtgenoot van Pangeran Panoelar,van dezen zwanger toen zij met Nitinegoro huwde.
Meletakkan dasar pada Pakem Pasuruan, sejarah Kyai Adipati
Nitidiningrat I, Bupati Pasuruan 1751-1799. Bahwa R.Ayu Srie Berie Boedjang
adalah anak Pangeran Kertokusumo / Bodrokusumo, dari Ds. Drajat, Sidayu – Lawas;
Sebagai keturunan ke 7 dari Raden Rachmad / Sunan Ampel, di Surabaya. Ketika
mengandung umur tiga bulan oleh Paku Buwono II, diberikan kepada Kyai
Tumenggung Wongsonegoro sebagai hadiah ( puteri teriman ),. Dalam silsilah ini
tidak dijelasakan secara rinci asal usul R Ayu Srie Berie
Budjang.
Menjelaskan yaitu sbb “ Hij huwde, op aanraden van den Susuhunan van
Katrtosuro, met eene aanzienlijke vrouw uit de priesterfamilie van Dradjat,
(Sidayu, Gresee) genaamd Sri Bri, of Sri Bri Boedjang. Zij was de gesepareerde
echtgenoot van Pangeran Panoelar,en van dezen zwanger toen zij met Nitinegoro
huwde.”
Terjemahan : "Dia menikah, atas saran dari Susuhunan dari Katrtosuro, dengan seorang wanita yang cukup dari keluarga imam dari Dradjat (Sidayu, Gresee) bernama Sri Bri, atau Sri Bri Boedjang. Dia adalah suami dipisahkan dari Pangeran Panoelar, dan dari mereka hamil saat menikah Nitinegoro." Dan selanjutnya tidak mengungkap tentang leluhur R \
·
Versi : Eene
Javaansche Plegtigheid dibuat oleh Resident Pasuruan S.Van Deventer, JSz,
1868;
Raden Ayu Srie Berie Budjang. Atas dasar ini semua
maka sekiranya kita menganut silsilah yang dapat dibenarkan, ( bukan pembenaran
), yaitu atas dasar hasil penelitian dari sumber sumber dan / orang-orang yang
telah memiliki history sebagai pemerhati, dan juga sebagai peneliti asal mula
keluarga/leluhur dengan didukung oleh kelompok genealogy yang berwenang (
misal: penangung jawab silsilah keraton Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran,
Mangkubumi, dlsb.);
Dan penulis cenderung kepada
hasil Pangeran Elang dari Kasultanan Kasepuhan Cirebon yang telah menunjukkan
arah adanya kemungkinan besar / pasti bahwa Raden Ayu Srie Berie Budjang masih
ada keturunan dengan Keraton Cirebon yaitu : Sultan Sepuh IV Sultan Raja
Amir Sena Muhammad Jaenuddin yang bertahta dari 1753 - 1773, seperti
disebutkan dalam buku "Gebyaring Cahaya Maduretna”.
Dalam silsilah peninggalan leluhur di Jawa Timur hampir kesemuanya
menuliskan bahwa Raden Ayu Srie Berie Budjang adalah puteri Raden Sidik,dengan
gelar Sunan Drajad V (keturunan ke lima (canggah) Sunan Drajad,
di Drajat, Sedayu Lawas ( jadi bukan dimaksud kelompok Wali Songo ). Nama
gelar lain : Pangeran Kertokoesoemo II. Keturunan ke 7(tujuh) /Gantung
Siwur dari Raden Rachmat / Sunan Ampel Surabaya. Raden
Sidik menikah dengan Raden Ayu Wedan puteri dari Raden Ardikusumo
di Drajat, dengan Raden Ayu Buwidjan; ( Dalam silsilah tidak dimuat
sumber pustaka ). Maka seolah olah jalur silsilah ini terputus dengan
Kasultanan Kasepuhan Cirebon, namun dapat kita anulir bahwa hubungan dengan
Adipati Surabaya, & Gresik tentang syiar agama Islam bida menjadi
alasan adanya silang perkawinan, seperti yang diteliti Pangeran
Elang ( Kasultanan Kasepuhan Cirebon ).
- Trah Kromodjayan Kanoman dalam riwayatnya juga telah menjalin hubungan dengan Kasultanan Cirebon, kemungkinan besar ini bukan hal yang menjadi suatu kebetulan.
Bupati Pati yang berada di Surabaya meninggalkan Pati antara tahun 1801 t/m 1807. Beliau yang menggantikan Kangdjeng Kyai Adipati Tjondronegoro (sinare Poeri) Bupati Lamongan (Surabaya), dan pindah ke Pati di tahun 1808 (zie Bijlage E). Asal usul almarhum Kangjeng Pangeran Ario Tjondroadinagoro, Boepati Pati, pada tyanggal 14 Augustus 1885, menurut catatan "Kiahi Adipati Tjondronagoro Regent Lamongan yang terangkat kembali menjadi Regent di Pati pada th.1801, karena kondisi di Pati tidak aman, dan untuk keselamatan keluarga.Pangeran Ario Pamegatsari II, djumeneng Adipati di Pati, pada tahun Ehe 1674, sepulangnya dari Batavia meninggal, de semayamkan di Kaemakan (Koedoes). Karena beliau tidak mempunyai keturunan / putera, oleh sebab itu mengankat putra keponakan, yaitu putra dari adik beliau bernama Raden Behi Wiratmedjo I. Putra angkat tersebut menggantikan kedudukan Adipati di Pati, dengan nama nunggaksemi ( dicatat dengan nama Pangeran Ario Pamegatsari ke III).
