Minggu, 06 Desember 2015



Pembuka Kata :

            Memperjelas silsilah leluhur adalah bagian yang tidak saja membutuhkan pemikiran ataupun waktu khusus, sebagai pemerhatipun tidak kalah sulitnya untuk berkonsentrasi mencermati, mempelajari dan menganalisa yang kesemua itu merupakan :
  • Wujud upaya melestarikan pesan yang tersirat dan tersurat dalam hasil karya silsilah para pinisepuh / leluhur,sebagai upaya "Nguri-uri"/ melestarikan peninggalan/wasiat tersebut 
  • Sebagai pula wujud hormat dan mencintai orang tua / leluhur, menjalankan dharma bakti keturunannya teriring pula doa-doa. Dilakukan tanpa pamrih apapun, hanya karena wasiat beliau yang telah bersusah payah membangun silsilah keluarga,  
Mengingat hal tersebut, banyak sudah upaya membangun silsilah mendapatkan rintangan-rintangan,yang menghambat, tidak lain semua itu timbul dari orang-orang yang dijadikan rangkaian, dan diuntai jadi silsilah memberikan sikap adalah sebagai berikut :
1). Enggan memberikan informasi, dan berpendapat silsilah hanya sebagai upaya memperlihatkan siapa aku, dan tak ada gunanya dalam meningkatkan status ekonominya.
2). Meletakan sikap yang kurang hormat kepada penyusun silsilah, dengan anggapan bahwa membuat silsilah akan memberatkan keungannya, yaitu memberi dana sokongan.
3). Mereka menutup diri karena silsilah berpeluang besar membuka aib keluarga, dan informasinya diberikan secara tidak jujur;  
4). Konflik pandangan hidup, kepercayaan agama, status sosial, dan warisan.
5). Mengabaikan hubungan keluarga sedarah ( kominikasi-silaturahmi, tolong menolong ) 
·        
Dari akibat tersebut maka silsilah, yang ditulis acap kali berbenturan dengan yang
lain, ini keadaan yang lumrah, mengapa tidak ....... kemampuan seseorang
berbeda, keadaan sosialpun berbeda, waktu dan masa menulispun selalu
berbeda oleh sebab itu banyak pengaruh yang dominan terhadap tulisan silsilah.
          
        Dari uraian diatas, semoga para pembaca, pemerhati menjadikan maklum, dan sekarang timbul masalah mengapa budaya dalam melestarikan genealogy bagi satu keluarga menjadi sangat kurang diperhatikan, namun saat-saat usia merambah di usia senja barulah mereka tergerak ? tidak lain karena kesibukan memenuhi hajat hidup dan keinginan meningkatkan karier agar memiliki status yang terpandang. Semuanya tidak salah .

Namun satu hal harus diingat bahwa dalam perjalanan hidup seseorang sangat mulia berharga, dan tersanjung di mata keluarga/masyarakat jika mereka mengenal/paham sanak family, mampu memberikan pencerahan, memberikan pertolongan kepada yang lain tentang hubungan keluarga dan sosial. Bahkan jika ada kemampuan menyampaikan ceritera ceritera leluhur tentang budi pekerti, sifat-sifat luhur, ataupun wasiat wejangan / petuah luhur orang tua yang bermanfaat..

Dan oleh karena itu penulis, tergerak untuk memulai satu langkah lagi mebeberkan dan merangkum dari bahan silsilah yang sumber berbeda namun masih dalam urutan silsilah. Karena ada paham bahwa peninggalan leluhurnya pasti benar, namun tidak mengingat saat itu alat / media komunikasi minim sekali / sangat terbatas. Disusun oleh perorangan dalam tulisan tangan, tanpa pakem, bahan pustaka tidak tersedia lengkap dan lain sebagainya.
Demikian kami ulas tentang membangun suatu silsilah, dan sajikan tulisan : Garis Silsilah Raden Ayu Srie Berie Budjang dengan Kasultanan Cirebon. Dan dalam penulisan nama beliau sering di persingkat dengan nama Raden Ayu Berie. Semoga ada manfaatnya.

 Raden Ayu Srie Berie Budjang



          Begitu pentingnya untuk mengetahui dengan sebenarnya tanpa keraguan asal usul Raden Ayu Srie Berie Budjang, yang posisi awalnya ada sebagai isteri / selir seorang raja tanah Jawa. Siapakah sebenarnya beliau ? kepastian harus kita dapat karena beliau sebagai cikal bakal / leluhur dan keturunan dari beliau memegang peran penting sebagai leluhur dan kemudian keturunannya banyak menempati kedudukan sebagai pemangku jabatan, ataupun penguasa pemerintaha tanah Jawa, s/d. wiraswasta dlsb.,  dan menurunkan anak cucu, yang kemudian juga sebagai pancer dari keluarga masing-masing.

  • Garis silsilah yang terputus dari Raden Ayu Srie Berie Budjang
Berawal kita berbicara dari putera beliau sebagai Pancer / Leluhur bupatai bupati Tanah Jawa ( Jawa Timur dan Jawa Tengah ) Raden Groedo / Raden Garudo jumeneng Adipati nama gelar Raden Tumenggung Ario Nitidingrat I, adalah Bupati Pasuruan yang pertama;    
Setelah menginjak usia dewasa memegang tampuk kepemimpinan memakai nama Raden Bagus  Ngabei Soemodrono, atau memakai nama gelar Kyai Adipati Nitinegoro II. Raden Garudo Lahir Th 1740 di Desa Groedo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan nama gelar lainnya dalah Kyai Adipati Nitiadiningrat I ( Berdasarkan Resolusi 27 Juli 1751) Bupati PASURUAN 1751 sampai dengan tangga 8 Nopember-1799.
 

 

Dikenal dengan julukan "Kanjeng Lemper", karena sakit strok
          
Karena Raden Groedo / Garudo sebagai pancer (cikal bakal) keturunannya ataupun pancer dari beberapa Trah misalnya  Trah Nitidiningrat, Trah Notoadiningrat, Trah Kromodjayan Kasepuhan, dan Kanoman, Trah Tjondronegoro .
Maka perlu mengetahui secara pasti silsilah beliau dari Pancer Ayah maupun pancer ibu dari Raden Ayu Srie Berie Budjang.  Sehubungan beberapa sumber pustaka genealogy ada sedikit perbedaan.

Garis keturunan dari Ayah atau disebut Pancer Ayah R Ayu Berie.

Nama Raden Ayu Berie dalam risalah “Babad Tanah Jawi” atupun “Kitho Pasuruan” telah diungkap tulisan seorang pemerhati Sastra Universitas Sumetera Utara,  dan petikan dari pokok bahasan / naskah tentang “babat” yang meliputi negara Mataram.

Kutipan dari “Babad Kitho Pasuruan” ( bahasa kawi kuno )

“Sakehe para kompeni, pan samya rakit sedaya, Jeng Pangran kumpeni, pan samya rakit sadaya, Jang Pangeran langkung asihe dhumateng Ki Adopatya, lajeng wau taginanjar wanodya ayu pinunjul garwane panran pribadia.
Awasta dyan ayu Bari, nangsih nandang wawratan dku kang pinaringake, kocapa Ki Adinatya sakelangkung lingahira, nulia pinarehaken sampun wonten ing dhusun garuda.
Hanjuring kandha sepalih, saestu Kanjeng Pangran amunderma ngeterake maring wanodya punika, satuhue garwira, enggih kanjeng sinuhun ing Mataram Kartosuro”
Terjemahan :
“Semua orang kompeni, sudah lengkap hadir, Kanjeng pangeran sangat menaruh hati kepada Ki Adipati ( Bupati Pasuruan Kyai Adipati Nitinegoro ), maka kemudian ia diberi hadiah seorang wanita yang sangat cantik isteri Pangeran itu sendiri. Bernama Raden Ayu Berie, akan tetapi wanita yangdihadiahkan ini masih berisi ( dalam keadaan mengandung).
Kyai Adipati sangat senang hatinya sebab wanita itu sangat cantik, dan ia segera menempatkan di desa Garudo.
Menurut kata setengah orang,sebenarnya Kanjeng pangeran sekedar mengantarkan wanita ituy. Sesungguhnya wanita itu adalah isteri dari Susuhunan Mataram di Kartosuro,” 

Kita simpulkan bahwa Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, adalah raja Mataram di Kartosuro. Nama aslinya adalah Raden Mas Prabasuyoso, putera Amngkurat IV dari permaisuri keturunan / Trah Sunan Kudus, dilahirkan tanggal 08 Desember 1711.
Paku Buwana II jumeneng (naik tahata) nata tahun prameswari dari Hingkang Sinuhun Amangkurat  IV -Jawa di Kartosuro.
Garwo ampeyan / selir Pakubuwana bernama Raden Ayu Srie Berie Budjang status sebagai puteri Keraton ini diberikan sebagai hadiah ( istilah jawa : puteri teriman ) kepada Bupati Pasuruan Raden Adipati Nitinegoro. Namun keadaan Rade Ayu Berie dalam keadaan mengandung. Meskipun demikian Bupati tersebut merasa bahagia karena mendapat anugerah raja. Dengan syarat selama wanita itu belum melahirkan Adipati Nitinegoro tidak boleh menggauli, hal ini disebutkan dalam serat babad :

“ ...... mangkana wau welinge, ing ngenjang lamun mbabar anengih putroniro poma-poma wekas ingsun, siro nama nama radian, ing nagari Pasuruan lan malih ing wekas ingsun sadurunge mbabar uka. Lan aja sura saresmi hiya laean garmaniro... “
Terjemahan :
“...... demikian pesannya, besok kalau sudah melahirkan anakmu, saya pesan supaya sungguh sungguh anak itu diberi sebutan Raden ....., karena besok ialah yang menurunkan raden di Pasuruan, dan lagi pesan saya: sebelum melahirkan kamu tidak boleh bersetubuh dengan isterimu ...”

Sedikit ulasan dalam hal ini : “.... memetik makna sejarah tersebut memberikan wawasan bahwa sang raja menghadiahkan isteri di jaman itu bermaksud / dengan tujuan untuk mempererat hubungan kekuasaan pusat / keluarga raja dengan para pejabat wilayah kerajaan....”. Dengan kelahiran Raden Garuda merupakan wakil kerajaan. Sedangkan Adipati Nitinegoro menjadi keluarga kerajaan walaupun statusnya ayah tiri Raden Garudo.  

Versi : dr Arman Yurisaldi Saleh
Berdasrkan fakta disimpulkan SISKS Paku Buwono II adalah ayah Raden Groedo/ Garudo, dengan logika tahun kelahiran, kematian dan masa pemerintahan, adalah sbb. :
 
       1. Sultan Agung (1593-1645) versi  Catatan Silsilah Keluarga Ibu Maryati 
         Sukomihardjo.  
     2. Amangkurat -I ( 1645-1647 ), versi buku "Note's on Jav's Regent Families" 
         oleh Heather Sutherland.  
     3. Pangeran Panular ayah Raden Garudo, versi buku "Note's on Jav's Regen
         Families" tidak menjelaskan tahun berapa lahir, wafatnya. Dan dari pustaka 
         Keraton Surakarta, Pangeran Panulat tercatat masa usianya sejaman dengan
         SISKS Paku Buwana ke 1.
 4. SISKS Paku Buwana I ( 1677-1719 ) adalah ayah Raden garudo, versi 
         Silsilah Bupati Bondowoso, dan catatan silsilah Eyang Raden Ajeng Doeryana
         serta Silsilah versi Pemda Pasuruan di website internet. 
     5. Dari sudut usia Raden Garudo, di usia 11 tahun diangkat menjadi Bupati 
         Pasuruan pada tanggal 27 Juli 1751, sampai dengan tahun 1740; dan wafat 
         tahun 1799. 
 
  Garis keturunan dari Ibu atau disebut Pancer ibu R Ayu Berie

Dari hasil tulisan dr Arman Yurisaldi saleh, MS, SpS. Sebagai pemerhati, penulis genealogy  dihalaman 33 dalam bukunya "Gebyaring Cahaya Maduretna  menjelaskan Pancer Ayah Raden Ayu Srie Berie Budjang dalam tulisannya menjelaskan :
Versi Silsilah Keluarga Besar Eyang Raden Ayu Doeryana (25)
R Ayu Berie adalah puteri Raden Sidik,dengan gelar Sunan Drajad V (keturunan ke lima (canggah) Sunan Drajad, ( jadi bukan dimaksud kelompok Wali Songo ). Nama gelar lain : Pangeran Kertokoesoemo II.
R Ayu Berie adalah puteri ke 5 dari 5 bersaudara kandung dengan urutan sebagai berikut : 1. Ki Djojoardjo; 2. Raden Gintir Soeloek; 3. Raden Djojosoepeno; 4. Raden Soerodiwirjo; 5. Radem Ayu Beri Boedjang.
  Versi Silsilah Keraton Kasepuhan Cirebon.
Dari keterengan beliau Raden Elang seorang Pangeran Keraton Kasepuhan Cirebon, menjelaskan bahwa dari ciri kas nama putera puteri Raden Ayu Berie mengambil nama dari burung yang dinilai perkasa atau indah bagi nama anak keturunannya. Katurunan bangsawan Cirebon banyak meng- gunakan nama burung.  Misalnya nama Elang diambil nama burung Rajawali yang perkasa, dengan harapan keturunannya menjadim perkasa seperti burung elang.


Lambang Kasultanan Kasepuhan Cirebon

Berdasarkan sumber sejarah dan bahasa Kawi atau jawa kuno, nama “Berie” adalah nama burung Rajawali betina yang menunjukkan kebesaran, kehebatan beliau sebagai pewaris garis keturunan titah yang unggul. Dijelaskan pula bahwa di komplek pemakaman Kanjeng Sunan Gunung Jati juga terdapat nama almarhum para bangsawan yang menggunakan nama burung elang yaitu Pangeran Sindang Garuda, adalah keturunan Trah kanjeng Gusti Gunung Jati. Yang kesemuanya hal ini merupakan pertanda bahwa R Ayu Berie masih dalam keturunan keraton Kasepuhan Cirebon. Pada tanggal 12 Desember 2009 datanglah berita dari Raden Elang yang menunjukkan adanya kemungkinan R Ayu Berie keturunan dari Kanjeng Sultan Amir Sena, berdasarkan angka tahun semasa hidup beliau.
Berita ini setelah dikonfirmasikan dengan Raden Ayu Sri Moerti Rahayu, SH. ibunda dr Arman Yurisaldi Saleh, bahwa pernah dibertahu oleh Eyang Raden Ayu Siti Roekmi bahwa leluhur R Ayu Berie dari Kasultanan Kasepuhan Cirebon yaitu Kanjeng Sultan Amir Sena.  Pada tanggal 13 Desember 2009 dilakukan penelusuran silsilah dengan mencopy Silsilah milik Kasultanan Kasepuhan Cirebon, dan terdapat informasi bahwa :
Kanjeng Sultan Amir Sena menikah dengan seorang isteri, yang melahirkan 5(lima)  orang putera puteri.   
Secara struktural genealogy penguasa Keraton Kasepuha Cirebon, yaitu :
1.   Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) (bertahta dari 1479 - 1568)
2.   P. Adipati Pasarean (P. Muhammad Arifin) (hidup dari 1495 - 1552)
3.   P. Dipati Carbon (P. Sedang Kamuning) (hidup 1521 - 1565)
4.   Panembahan Ratu Pakungwati I (P. Emas Zainul Arifin) (bertahta dari 1568 - 1649)
5.   P. Dipati Carbon II (P. Sedang Gayam) (-)
6.   Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilaya) (bertahta dari 1649 - 1666)
7.   Setelah pembagian kesultanan Cirebon, Kasepuhan dipimpin oleh anak pertama Pangeran Girilaya yang bernama Pangeran Syamsudin Martawidjaja yang kemudian dinobatkan sebagai Sultan Sepuh I.
8.   Sultan Sepuh I Sultan Raja Syamsudin Martawidjaja (bertahta dari 1679 - 1697)
9.   Sultan Sepuh II Sultan Raja Tajularipin Djamaludin (bertahta dari 1697 - 1723)
10.  Sultan Sepuh III Sultan Raja Djaenudin (bertahta dari 1723 - 1753)
11.  Sultan Sepuh IV Sultan Raja Amir Sena Muhammad Jaenuddin (bertahta dari 1753 - 1773)
12.  Sultan Sepuh V Sultan Sepuh Sjafiudin Matangaji (bertahta dari 1773 - 1786)
13.  Sultan Sepuh VI Sultan Sepuh Hasanuddin (bertahta dari 1786 - 1791) bertahta menggantikan saudaranya Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji
14.  Sultan Sepuh VII Sultan Sepuh Djoharudin (bertahta dari 1791 - 1815)
15.    Sultan Sepuh VIII Sultan Sepuh Radja Udaka (Sultan Sepuh Raja Syamsudin I) (bertahta dari 1815 - 1845[13]) menggantikan saudaranya Sultan Sepuh VII Sultan Djoharuddin
16.   Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman (Sultan Sepuh Raja  Syamsudin II) (bertahta dari 1845 - 1853)
17.    Perwalian oleh Pangeran Adiwijaya bergelar (Pangeran Syamsudin IV) (menjadi wali bagi Pangeran Raja Satria dari 1853 - 1871)
18.  Pangeran Raja Satria (memerintah dari 1872 - 1875) mewarisi tahta ayahnya Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman sebagai putera tertua Sultan Sepuh IX yang sah, setelah meninggalnya walinya yaitu Pangeran Adiwijaya sesuai dengan penegasan Residen Belanda untuk Cirebon tahun 1867
19.  Pangeran Raja Jayawikarta (memerintah dari 1875 - 1880) menggantikan saudaranya Pangeran Raja Satria
20.  Sultan Sepuh X Sultan Radja Atmadja Rajaningrat (bertahta dari 1880 - 1885) diangkat sebagai Sultan untuk menggantikan saudaranya yaitu Pangeran Raja Jayawikarta
21.  Perwalian oleh Raden Ayu (Permaisuri Raja) menjadi wali bagi Pangeran Raja Adipati Jamaludin Aluda Tajularifin dari 1885 - 1899
22.    Sultan Sepuh XI Sultan Sepuh Radja Jamaludin Aluda Tajularifin (bertahta dari 1899 - 1942)
23.  Sultan Sepuh XII Sultan Sepuh Radja Radjaningrat (bertahta dari 1942 - 1969)
24.    Sultan Sepuh XIII Pangeran Raja Adipati DR.H. Maulana Pakuningrat. SH (bertahta dari 1969 - 2010)
25.  Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. SE (bertahta dari 2010 - sekarang).

        Versi Kitab  sejarah Famili Raden Tumenggung Ario Nitidiningrat

Fatzal 1  Kacarito yang setelah Kiyai Ngabei Wongsonegoro ini di junjung jadi Bupati di Pasuruan dengan nama gelar Kiyai Tumenggung Nitinegoro, lantas dapat ganjaran seorang putri “selir” dari kanjeng Susuhunan Pakubuwono yang ke dua di Kartosuro. Putri itu bernama Raden Ayu Berie dibilang juga Srie Berie Boedjang, anaknya Pangeran Bodrokusumo di Drajat Sedayu.
Raden Ayu Berie masih keturunan dari wali Susuhunan Ampel, Surabaya dimana telah diperiksa di sejarah Ampel, dan sebagai keturunan ke 7(tujuh) dari Susuhunan Ampel.
Raden Ayu Berie meninggal, dimakamkan di Pakuncen, namun terpisah dengan Raden Tumenggung Nitinegoro,



Lambang Adipati Pasuruan Nitinegoro I
Versi Bukud Serat Sara Silah dari keturunan 1) Kasepuhan; 2) Kanoman 3) Kromodjayan; 4) Sambongan; 6). Nitiidiningrat; 7). Notoadiningrat; 8) Bustaman-Semarang; 9). Pusponegoro-Gresik Lawas; 10 Dinasty HAN di Lasem.   
Meletakkan dasar pada pakem Pasuruan, sejarah Kyai adipati Nitidiningrat I, Bupati Pasuruan 1751-1799, bahwa Raden Ayu Srie Berie Budjang adalah anak Pangeran Kertokusumo / Bodrokusumo, dari desa Drajat, Sidayu-lawas. Sebagai keturunan ke 7 dari Raden Rachmad / Sunan Ampel, di Surabaya. Katika Raden Ayu Srie Berie Budjang dalam keadaan mengandung umur 3 bulan, oleh suamnya Paku Buwono II deberikan sebagai hadiah ( puteri teriman ) kepada Kyai Tumenggung Wongsonegoro.       Dalam Silsilah ini asal usul Raden Ayu Srie Berie Budjang tidak di jelaskan. Silsilah ini menjelaskan dalam bahasa belanda : "Hij huwde, opaaraden van den Susuhunan van Kartosuro, met eene aanzienlijke vrouw uit de priesterfamilie van Dradajt, (Sidayu, Gresee) genaamd Sri BRI., of Sri Bri Boedjang. Zij was de geseparerde echtgenoot van Pangeran Panoelar,van dezen zwanger toen zij met Nitinegoro huwde.



Meletakkan dasar  pada Pakem Pasuruan, sejarah Kyai Adipati Nitidiningrat I, Bupati Pasuruan 1751-1799. Bahwa R.Ayu Srie Berie Boedjang adalah anak Pangeran Kertokusumo / Bodrokusumo, dari Ds. Drajat, Sidayu – Lawas;  Sebagai keturunan ke 7 dari Raden Rachmad / Sunan Ampel, di Surabaya. Ketika mengandung umur tiga bulan oleh Paku Buwono II, diberikan kepada Kyai Tumenggung Wongsonegoro sebagai hadiah ( puteri teriman ),. Dalam silsilah ini tidak dijelasakan secara rinci asal usul R Ayu Srie Berie Budjang.      
Menjelaskan yaitu sbb “ Hij huwde, op aanraden van den Susuhunan van Katrtosuro, met eene aanzienlijke vrouw uit de priesterfamilie van Dradjat, (Sidayu, Gresee) genaamd Sri Bri, of Sri Bri Boedjang. Zij was de gesepareerde echtgenoot van Pangeran Panoelar,en van dezen zwanger toen zij met Nitinegoro huwde.”
Terjemahan : 
"Dia menikah, atas saran dari Susuhunan dari Katrtosuro, dengan seorang wanita yang cukup dari keluarga imam dari Dradjat (Sidayu, Gresee) bernama Sri Bri, atau Sri Bri Boedjang. Dia adalah suami dipisahkan dari Pangeran Panoelar, dan dari mereka hamil saat menikah Nitinegoro."  Dan selanjutnya tidak mengungkap tentang leluhur R \
·       Versi : Eene Javaansche Plegtigheid  dibuat oleh Resident Pasuruan S.Van Deventer, JSz, 1868;

Raden Ayu Srie Berie Budjang.     Atas dasar ini semua maka sekiranya kita menganut silsilah yang dapat dibenarkan, ( bukan pembenaran ), yaitu atas dasar hasil penelitian dari sumber sumber dan / orang-orang yang telah memiliki history sebagai pemerhati, dan juga sebagai peneliti asal mula keluarga/leluhur dengan didukung oleh kelompok genealogy yang berwenang ( misal: penangung jawab silsilah keraton Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, Mangkubumi, dlsb.);

         Dan penulis cenderung kepada hasil Pangeran Elang dari Kasultanan Kasepuhan Cirebon yang telah menunjukkan arah adanya kemungkinan besar / pasti bahwa Raden Ayu Srie Berie Budjang masih ada keturunan dengan Keraton Cirebon yaitu : Sultan Sepuh IV Sultan Raja Amir Sena Muhammad Jaenuddin yang bertahta dari 1753 - 1773, seperti disebutkan  dalam buku "Gebyaring Cahaya Maduretna”.

 Dalam silsilah peninggalan leluhur di Jawa Timur hampir kesemuanya menuliskan bahwa Raden Ayu Srie Berie Budjang adalah puteri Raden Sidik,dengan gelar Sunan Drajad V (keturunan ke lima (canggah) Sunan Drajad,  di Drajat,  Sedayu Lawas ( jadi bukan dimaksud kelompok Wali Songo ). Nama gelar lain : Pangeran Kertokoesoemo II. Keturunan ke 7(tujuh) /Gantung Siwur dari Raden Rachmat  / Sunan Ampel Surabaya. Raden Sidik menikah dengan Raden Ayu Wedan puteri dari Raden Ardikusumo di Drajat, dengan Raden Ayu Buwidjan;  ( Dalam silsilah tidak dimuat sumber pustaka ). Maka seolah olah jalur silsilah ini terputus dengan Kasultanan Kasepuhan Cirebon, namun dapat kita anulir bahwa hubungan dengan Adipati Surabaya, & Gresik tentang syiar agama Islam bida menjadi alasan  adanya silang perkawinan, seperti yang diteliti Pangeran Elang ( Kasultanan Kasepuhan Cirebon ).



  • Trah Kromodjayan Kanoman dalam riwayatnya juga telah menjalin hubungan dengan Kasultanan Cirebon, kemungkinan besar ini bukan hal yang menjadi suatu kebetulan.
  •  
  •  
  •  

  • Bupati Pati yang berada di Surabaya meninggalkan Pati antara tahun 1801 t/m 1807. Beliau yang menggantikan Kangdjeng Kyai Adipati Tjondronegoro (sinare Poeri) Bupati Lamongan (Surabaya), dan pindah ke Pati di tahun 1808 (zie Bijlage E).  Asal usul almarhum Kangjeng Pangeran Ario Tjondroadinagoro, Boepati Pati, pada tyanggal 14 Augustus 1885, menurut catatan  "Kiahi Adipati Tjondronagoro Regent Lamongan yang terangkat kembali menjadi Regent di Pati pada th.1801,  karena kondisi di Pati tidak aman, dan untuk keselamatan keluarga.Pangeran Ario Pamegatsari II, djumeneng Adipati di Pati, pada tahun Ehe 1674, sepulangnya dari Batavia meninggal, de semayamkan di Kaemakan (Koedoes). Karena beliau tidak mempunyai keturunan / putera, oleh sebab itu mengankat putra keponakan, yaitu putra dari adik beliau bernama Raden Behi Wiratmedjo I.  Putra angkat tersebut menggantikan kedudukan Adipati di Pati, dengan nama nunggaksemi ( dicatat dengan nama Pangeran Ario Pamegatsari ke III).



        Pangeran Ario Pamegatsari II, djumeneng Adipati di Pati, pada tahun Ehe 1674, sepulangnya dari Batavia meninggal, de semayamkan di Kaemakan (Koedoes). Karena beliau tidak mempunyai keturunan / putera, oleh sebab itu mengankat putra keponakan, yaitu putra dari adik beliau bernama Raden Behi Wiratmedjo I.

Putra angkat tersebut menggantikan kedudukan Adipati di Pati, dengan nama nunggaksemi (dicatat dengan nama Pangeran Ario Pamegatsari III ).

 

Raden Behi Wiratmedjo I ( NB: ada nama juga Wiratmedjo II (zie keterangan C. Di halaman belakang), yaitu semasa pembrontakan Trunojoyo ).Raden Tjokrokusumo
 


   

2 komentar:

  1. Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. SE (bertahta dari 2010 - sekarang).

    BalasHapus
  2. 25. ................................dst RALAT

    BalasHapus